menu

Sabtu, 03 Desember 2016

BAB V Sejarah Berdirinya Daulah Amawiyah

A. Sejarah Berdirinya Daulah Amawiyah
Nama”daulah Amawiyah” itu berasal dari nama”Umaiyah ibnu’Abdi Syam ibnu’Abdi Manaf, yaitu salah seorang dari pemimpin-pemimpin kabilah Quraisy dizaman jahiliyah. Umaiyah ini senantiasa bersaingan dengan pamannya, Hasyim ibnu Abdi Manaf, untuk merebut pimpinan dan kehormatan dalam masyrakat bangsanya. Umayyah dinilai memiliki cukup persyaratan untuk menjadi pemimpin dan dihormati oleh masyarakat. Ia berasal dari keluarga bangsawan kaya dan mempunyai sepuluh putra. Pada zaman pra-Islam, orang yang memiliki ketiga kelebihan itu berhak memperoleh kehormatan dan kekuasaan.
 Sesudah datang agama islam berubahlah hubungan antara Bani Umayyah dengan saudara-saudara sepupu mereka bani Hasyim, oleh karena persaingan-persaingan untuk merebut kehormatan dan kekuasaan tadi berubah sifatnya menjadi permusuhan yang lebih nyata, bani umayyah dengan tegas menentang Rasulullah, baik mereka yang telah masuk islam ataupun yang belum. Dan dalam peperangan badr, kekuasaan Quraisy hamper semuanya berpusat pada Bani ABdi Syam. Dan setelah ia mengetahui bahwa kaum muslimin dimadinah mencegat iring-iringan untanya itu dalam perjalannya ke Mekah , maka ia meminta kepada orang-orang Quraisy untuk beramai-ramai menolongnya.
Bani Umayyah barulah masuk agama islam setelah mereka tidak menemukan jalan lain, selain memasukinya, yaitu ketika Nabi Muhammad bersama beribu-ribu pengikutnya yang benar-benar percaya kepada kerasulan dan pimpinannya, menyerbu masuk kekota Mekah.
Bani Umayyah tergolong yang belakang masuk Islam. Setelah masuk Islam, mereka memperlihatkan loyalitas dan dedikasi tinggi terhadap agama tersebut. Dalam setiap peperangan yang dilakukan oleh kaum Muslimin misalnya, mereka tampil dengan semangat kepahlawanan, seolah-olah ingin mengimbangi keterlambatan mereka masuk Islam dengan berbuat jasa besar kepada Islam.
Karena sikap baik, ada diantara mereka yang dipercayakan untuk menduduki jabatan penting. Mu’awiyyah bin Abu Sufyan (21 SH / 602 M – 60 H / 600 M) misalnya pada masa Nabi SAW diangkat menjadi penulis wahyu dan pada masa khalifah Umar bin Khattab (42 SH / 581 M – 23 H / 644 M) diangkat pada tahun 641 sebagai Gubernur di Suriah. Pada masa pemerintahan Utsman bin Affan (47 SH / 576 M – 35 H / 656 M). Bani Umayyah juga mendapat banyak keuntungan, pemberian hadiah dan jabatan, kekuasaan yang membentang dari Suriah sampai Pantai Laut Tengah. Ia memanfaatkan masa tersebut untuk mempersiapkan diri dan meletakkan dasar pendirian sebuah dinasti. Harapan itu lebih besar terbuka setelah Utsman bin Affan di bunuh pada tahun 656 oleh para pemberontak yang menentang kebijakan nepotisme dan penyalahgunaan harta baitul mal untuk keperluan pribadi dan keluarga.
Ketika Ali bin Abi Thalib (603 M – 40 H / 661 M), yang diangkat oleh sahabat Nabi SAW di Madinah sebagai khalifah pengganti Utsman, memerintahkan Umayyah untuk menyerahkan jabatan, ia menolak. Sebaliknya, ia malah menuduh Ali terlibat dalam pembunuhan Utsman atau paling tidak melindungi pemberotak yang melindunginya. Sikap Mu’awiyyah yang menentang Ali di pandang sebagai pemberontakan terhadap pemerintah yang sah dan harus diperangi sampai taat kembali, hingga akhirnya Ali dan pasukannya segera berangkat untuk memerangi Mu’awiyyah di Suriah.
Kedua pihak setuju memilih seorang hakam (perantara) sebagai perunding dan pencari jalan penyelesaian sengketa. Pihak Mu’awiyyah memilih Amr bin Ash dan dari Ali, Abu Musa al-‘Asy’ari (sahabat Nabi SAW, w. 72/53 H) yang disetujui mayoritas penduduk Irak. Tahkim tersebut berakhir dengan kekecewaan di pihak Ali. Ketika Abu Musa mengumumkan turunnya Ali dari jabatannya, Amr bin Ash segera menyetujuinya dan menetapkan Mu’awiyyah sebagai khalifah. Rencana tersebut ternyata tidak sepenuhnya berhasil, Ibnu Muljam (pengikut khawarij) 661 hanya berhasil membunuh Ali ketika Ali ke Masjid Kuffah. Adapun Mu’awiyyah dan Amr bin Ash selamat dari rencana tersrbut.[1]
 B. Perkembangan Kebudayaan/Peradaban Islam Pada Masa Bani Umaiyah
A. Perkembangan Pada Bidang Social, antara lain :          
1.      Terciptanya ketertiban kehidupan masyrakat karena sudah adanya peraturan dan
2.      Perundang –undangan Negara dan adanya lembaga penegak hukum, seperti lembaga pengadilan dan kepolisian
3.      Terciptanya kemakmuran dan keadilan yang merata karena pemerintah telah memberikan hak-hak dan perlindungan yang sama kepada warga
4.      Terpelihara dan terjaminnya masyrakat kelas bawah seperti anak yatim orang lumpuh, buta dan lain-lain
5.      Dibangunnya rumah sakit, jalan raya, sarana dan olahraga (seperti gelanggang pacuan kuda), tempat-tempat minum ditempat yang strategis, kantor pos, pasar/pertahanan sebagai sarana prasarana umat.
B.     Perkembangan Pada Bidang Budaya, antara lain :
1.      Bahasa arab berkembang luas keberbagai penjuru dunia dan menjadi salah satu bahasa resmi Internasional disamping bahasa Inggris.
2.      Mencetak mata uang dengan menggunakan bahasa arab yang bertuliskan “la ilaha illallah” dan disebelasnya ditulis kalimat”Abdul Malik”.
3.      Mendirikan pabrik kain sutera, Industri kapal dan senjata, gedung-gedung pemerintahan
4.      Membangun irigasi-irigasi sebagai sarana pertanian
5.      Membangun kata Basrah dan Kuffah sebagai pusat perkembangan ilmu dan adab
6.      Membuat administrasi pemerintahan dan pembukuan keuangan Negara
7.      Mengembangkan ilmu dan pertanian
Adapun tokoh-tokoh yang berhasil dalam membangun dan mengembangkan social budaya pada masa Daulah Bani Umayyah :
a.       Khalifah Abdul Malik bin Marwan (65-86 H/685-705 M)
b.      Kalifah Walid bin Abdul Malik       (86-96 H/705-715M)
c.       Khalifah Umar bin Abdul Aziz        (99-101H/717-720M)
d.      Kalifah Hisyam bin Abdul Malik      (105-125H/724-743M)
C. Perkembangan/Prestasi Pada Bidang Politik Militer Yaitu Dengan Terbentuknya Lima Lembaga Pemerintahan, antara lain :
1.      lembaga politik         (An-Nizam As-Siyasi)
2.      lembaga keuangan     (An-Nizam Al-Mali)
3.      lembaga tata usaha     (An-Nizam Al-Idari)
4.      lembaga kehakiman   (An-Nizam Al-Qadai)
5.      lembaga ketentraman (An-Nizam Al-Hardi)
        Di samping itu juga di bentuk dewan sekretaris Negara ( diwanul kitabah ) yang bertugas mengurusi berbagai macam urusan pemerintahan dewan ini terdiri dari lima orang sekretaris, yaitu:
1.      sekretaris persuratan                 ( katib Ar Rasal )
2.      sekretaris keuangan                  ( katib Al Kharraj )
3.      sekretaris tentara                       ( katib Al Jund )
4.      sekretaris kepolisian                  (katib Al Jund )
5.      sekretaris kehakiman                (katib Al Qadi )
Langkah-Langkah politik  militer bani umayah :
1.      memindahkan ibu kota pemerintahan bani umayyah dari kuffah ke damaskus
2.      menumpas segala bentuk pemberontakan yang ada demi terciptanya  stabilitas keamanan dalam negerinya.
3.      Menyusun organisasi pemerintahan agar roda pemerintahannya dapat berjalan lancar
4.      Mengubah sistem pemerintahan demokrasi menjadi system monarki
5.      Menetapkan bahasa arab sebagai bahasa nasional bani umayyah yang dapat berfungsi sebagai alat pemersatu bangsa
6.      Demi keselamatan khalifah dibentuk Al-Hijabah (ajudan) dengan tujuan agar tidak terjadi pembunuhan pada khalifah
Tokoh-Tokoh yang berperan dalam pengembangan politik dan militer antara lain :
1.      Khalifah muawiyah
2.      Khalifah abdul malik bin marwan
3.      Khalifah wahid bin abdul malik
4.      Khalifah sulaiman bin abdul malik


Tidak ada komentar:

Posting Komentar