A. Sejarah Berdirinya Daulah Amawiyah
Nama”daulah Amawiyah” itu berasal dari
nama”Umaiyah ibnu’Abdi Syam ibnu’Abdi Manaf, yaitu salah seorang dari
pemimpin-pemimpin kabilah Quraisy dizaman jahiliyah. Umaiyah ini senantiasa
bersaingan dengan pamannya, Hasyim ibnu Abdi Manaf, untuk merebut pimpinan dan
kehormatan dalam masyrakat bangsanya. Umayyah dinilai memiliki cukup
persyaratan untuk menjadi pemimpin dan dihormati oleh masyarakat. Ia berasal
dari keluarga bangsawan kaya dan mempunyai sepuluh putra. Pada zaman pra-Islam,
orang yang memiliki ketiga kelebihan itu berhak memperoleh kehormatan dan
kekuasaan.
Sesudah datang agama
islam berubahlah hubungan antara Bani Umayyah dengan saudara-saudara sepupu
mereka bani Hasyim, oleh karena persaingan-persaingan untuk merebut kehormatan
dan kekuasaan tadi berubah sifatnya menjadi permusuhan yang lebih nyata, bani
umayyah dengan tegas menentang Rasulullah, baik mereka yang telah masuk islam
ataupun yang belum. Dan dalam peperangan badr, kekuasaan Quraisy hamper semuanya
berpusat pada Bani ABdi Syam. Dan setelah ia mengetahui bahwa kaum muslimin
dimadinah mencegat iring-iringan untanya itu dalam perjalannya ke Mekah , maka
ia meminta kepada orang-orang Quraisy untuk beramai-ramai menolongnya.
Bani Umayyah barulah masuk agama islam setelah
mereka tidak menemukan jalan lain, selain memasukinya, yaitu ketika Nabi
Muhammad bersama beribu-ribu pengikutnya yang benar-benar percaya kepada
kerasulan dan pimpinannya, menyerbu masuk kekota Mekah.
Bani Umayyah tergolong yang belakang masuk
Islam. Setelah masuk Islam, mereka memperlihatkan loyalitas dan dedikasi tinggi
terhadap agama tersebut. Dalam setiap peperangan yang dilakukan oleh kaum
Muslimin misalnya, mereka tampil dengan semangat kepahlawanan, seolah-olah
ingin mengimbangi keterlambatan mereka masuk Islam dengan berbuat jasa besar
kepada Islam.
Karena sikap baik, ada diantara mereka yang
dipercayakan untuk menduduki jabatan penting. Mu’awiyyah bin Abu Sufyan (21 SH
/ 602 M – 60 H / 600 M) misalnya pada masa Nabi SAW diangkat menjadi penulis
wahyu dan pada masa khalifah Umar bin Khattab (42 SH / 581 M – 23 H / 644 M)
diangkat pada tahun 641 sebagai Gubernur di Suriah. Pada masa pemerintahan
Utsman bin Affan (47 SH / 576 M – 35 H / 656 M). Bani Umayyah juga mendapat
banyak keuntungan, pemberian hadiah dan jabatan, kekuasaan yang membentang dari
Suriah sampai Pantai Laut Tengah. Ia memanfaatkan masa tersebut untuk
mempersiapkan diri dan meletakkan dasar pendirian sebuah dinasti. Harapan itu
lebih besar terbuka setelah Utsman bin Affan di bunuh pada tahun 656 oleh para
pemberontak yang menentang kebijakan nepotisme dan penyalahgunaan harta baitul
mal untuk keperluan pribadi dan keluarga.
Ketika Ali bin Abi Thalib (603 M – 40 H / 661
M), yang diangkat oleh sahabat Nabi SAW di Madinah sebagai khalifah pengganti
Utsman, memerintahkan Umayyah untuk menyerahkan jabatan, ia menolak.
Sebaliknya, ia malah menuduh Ali terlibat dalam pembunuhan Utsman atau paling
tidak melindungi pemberotak yang melindunginya. Sikap Mu’awiyyah yang menentang
Ali di pandang sebagai pemberontakan terhadap pemerintah yang sah dan harus
diperangi sampai taat kembali, hingga akhirnya Ali dan pasukannya segera
berangkat untuk memerangi Mu’awiyyah di Suriah.
Kedua pihak setuju memilih seorang hakam
(perantara) sebagai perunding dan pencari jalan penyelesaian sengketa. Pihak
Mu’awiyyah memilih Amr bin Ash dan dari Ali, Abu Musa al-‘Asy’ari (sahabat Nabi
SAW, w. 72/53 H) yang disetujui mayoritas penduduk Irak. Tahkim tersebut
berakhir dengan kekecewaan di pihak Ali. Ketika Abu Musa mengumumkan turunnya
Ali dari jabatannya, Amr bin Ash segera menyetujuinya dan menetapkan Mu’awiyyah
sebagai khalifah. Rencana tersebut ternyata tidak sepenuhnya berhasil, Ibnu
Muljam (pengikut khawarij) 661 hanya berhasil membunuh Ali ketika Ali ke Masjid
Kuffah. Adapun Mu’awiyyah dan Amr bin Ash selamat dari rencana tersrbut.[1]
B. Perkembangan Kebudayaan/Peradaban Islam Pada Masa
Bani Umaiyah
A. Perkembangan Pada Bidang
Social, antara lain
:
1. Terciptanya ketertiban
kehidupan masyrakat karena sudah adanya peraturan dan
2. Perundang –undangan
Negara dan adanya lembaga penegak hukum, seperti lembaga pengadilan dan
kepolisian
3. Terciptanya kemakmuran
dan keadilan yang merata karena pemerintah telah memberikan hak-hak dan
perlindungan yang sama kepada warga
4. Terpelihara dan
terjaminnya masyrakat kelas bawah seperti anak yatim orang lumpuh, buta dan
lain-lain
5. Dibangunnya rumah
sakit, jalan raya, sarana dan olahraga (seperti gelanggang pacuan kuda),
tempat-tempat minum ditempat yang strategis, kantor pos, pasar/pertahanan
sebagai sarana prasarana umat.
B. Perkembangan Pada
Bidang Budaya, antara lain :
1. Bahasa arab berkembang
luas keberbagai penjuru dunia dan menjadi salah satu bahasa resmi Internasional
disamping bahasa Inggris.
2. Mencetak mata uang
dengan menggunakan bahasa arab yang bertuliskan “la ilaha illallah” dan
disebelasnya ditulis kalimat”Abdul Malik”.
3. Mendirikan pabrik kain
sutera, Industri kapal dan senjata, gedung-gedung pemerintahan
4. Membangun
irigasi-irigasi sebagai sarana pertanian
5. Membangun kata Basrah
dan Kuffah sebagai pusat perkembangan ilmu dan adab
6. Membuat administrasi
pemerintahan dan pembukuan keuangan Negara
7. Mengembangkan ilmu dan
pertanian
Adapun tokoh-tokoh yang berhasil dalam
membangun dan mengembangkan social budaya pada masa Daulah Bani Umayyah :
a. Khalifah Abdul Malik
bin Marwan (65-86 H/685-705 M)
b. Kalifah Walid bin
Abdul Malik (86-96 H/705-715M)
c. Khalifah Umar bin
Abdul Aziz (99-101H/717-720M)
d. Kalifah Hisyam bin
Abdul Malik (105-125H/724-743M)
C. Perkembangan/Prestasi Pada Bidang Politik
Militer Yaitu Dengan Terbentuknya Lima Lembaga Pemerintahan, antara lain :
1. lembaga
politik (An-Nizam
As-Siyasi)
2. lembaga
keuangan (An-Nizam Al-Mali)
3. lembaga tata
usaha (An-Nizam Al-Idari)
4. lembaga kehakiman (An-Nizam
Al-Qadai)
5. lembaga ketentraman
(An-Nizam Al-Hardi)
Di samping itu
juga di bentuk dewan sekretaris Negara ( diwanul kitabah ) yang bertugas
mengurusi berbagai macam urusan pemerintahan dewan ini terdiri dari lima orang
sekretaris, yaitu:
1. sekretaris
persuratan (
katib Ar Rasal )
2. sekretaris
keuangan (
katib Al Kharraj )
3. sekretaris
tentara (
katib Al Jund )
4. sekretaris kepolisian (katib
Al Jund )
5. sekretaris
kehakiman (katib
Al Qadi )
Langkah-Langkah politik militer bani umayah :
1. memindahkan ibu kota
pemerintahan bani umayyah dari kuffah ke damaskus
2. menumpas segala bentuk
pemberontakan yang ada demi terciptanya stabilitas keamanan dalam
negerinya.
3. Menyusun organisasi
pemerintahan agar roda pemerintahannya dapat berjalan lancar
4. Mengubah sistem
pemerintahan demokrasi menjadi system monarki
5. Menetapkan bahasa arab
sebagai bahasa nasional bani umayyah yang dapat berfungsi sebagai alat
pemersatu bangsa
6. Demi keselamatan
khalifah dibentuk Al-Hijabah (ajudan) dengan tujuan agar tidak terjadi
pembunuhan pada khalifah
Tokoh-Tokoh yang berperan dalam pengembangan politik dan militer
antara lain :
1. Khalifah muawiyah
2. Khalifah abdul malik
bin marwan
3. Khalifah wahid bin
abdul malik
4. Khalifah sulaiman bin
abdul malik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar